Pro-Kontra Pisah Ranjang

Akhir-akhir ini fenomena pisah ranjang seolah menjadi gaya hidup tersendiri, terutama di Amerika Serikat. Hal tersebut terungkap dalam sebuah artikel di The New York Times yang menyebutkan bahwa saat ini 25% pasangan di Amerika tidur sendiri-sendiri. Sebuah survei yang dilakukan oleh The National Association of Home Builders, semacam Organisasi Real Estate di Indonesia, menunjukkan bahwa banyak pasangan yang menginginkan di rumahnya terdapat 1 kamar tidur untuk suami dan 1 kamar tidur untuk istri. Dengan demikian, diperkirakan bahwa pada sebelum tahun 2015 nanti sekitar 60% rumah tangga di Amerika akan memiliki dua kamar tidur utama.

Sementara penelitian lain mengenai kebiasaan tidur yang dilakukan oleh sebuah lembaga nasional di Inggris, menyebutkan bahwa 23% pasangan di Inggris tidur dalam kamar terpisah seperti kebiasaan masyarakat pada jaman Victoria dulu. Para ahli yakin, jumlah itu akan meningkat menjadi 60% dalam 5 sampai 6 tahun mendatang.

Umumnya, pisah ranjang menandakan adanya sebuah permasalahan dalam suatu hubungan atau ketidakcocokan dengan kebiasaan pasangannya saat tidur. Biasanya penyebabnya pun sepele seperti sang suami ingin tidur dengan lampu dimatikan sementara sang istri takut gelap, sang suami merasa jijik karena istri selalu mengeluarkan air liur saat tidur, sang istri terganggu karena suami selalu mendengkur dalam tidurnya, maupun penyebab-penyebab lainnya. Terkadang kebiasaan tidur yang tidak disukai pada pasangan memang dapat membuat stres, tetapi yakinkah Anda bahwa pisah ranjang tidak akan memicu konflik lain dalam hubungan ?

Sementara alasan lain menyebutkan bahwa tidur terpisah membuat pasangan lebih mampu merawat keharmonisan hubungan suami-istri, menciptakan mood yang positif bagi keluarga serta mendorong semangat kerja. Menurut mereka, tidur terpisah juga dapat memicu perbaikan kualitas hubungan seksual pada saat hubungan suami-istri memburuk. Bersatunya dua orang yang kelelahan juga diperhitungkan lebih berbahaya dan berpotensi menimbulkan perceraian.

Pro dan kontra tersebut tidak akan bisa terselesaikan dengan mudah, karena tiap pasangan memiliki pendapat sendiri berdasarkan apa yang dia rasakan sendiri dalam berhubungan dengan pasangan. Namun begitu, Anda dapat mengkaji beberapa pendapat berikut agar mempertimbangkan lagi saat memutuskan untuk pisah ranjang.

>Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep and Biological Rhythms menemukan bahwa pria akan tidur lebih nyenyak saat tidur bersama pasangannya. Maka dari itu, carilah penyelesaian mengenai perbedaan kebiasaan tidur yang Anda alami agar sama-sama merasakan tidur yang lebih berkualitas. Jangan hakimi kebiasaan tidur pasangan Anda karena dalam hal ini tidak ada yang benar maupun salah.

>Kamar tidur memberikan suatu intimasi, sehingga jangan gunakan waktu tidur hanya untuk tidur saja. Anda dapat gunakan waktu tersebut untuk menonton film sambil memeluk pasangan Anda atau juga berhubungan intim dengan pasangan. Hubungan intim pun tidak bisa lagi dilakukan secara spontan, tetapi harus terjadwal. Hal ini sangat penting terutama jika Anda telah memiliki anak karena sewaktu-waktu anak mungkin membutuhkan Anda.

>Lakukan percakapan berdua dengan pasangan setelah seharian disibukkan dengan urusan kantor Anda masing-masing. Bicarakan mengenai keinginan-keinginan Anda berdua, masalah-masalah pribadi, hal-hal menyenangkan yang terjadi hari itu atau syukuri kebersamaan yang telah Anda jalin selama ini. Peluklah pasangan Anda saat mengobrol agar lebih terasa kedekatan fisik dan emosional antara Anda berdua. Agar tidak terganggu oleh faktor-faktor dari luar, ada baiknya mengunci pintu kamar serta matikan semua benda elektronik termasuk handphone Anda.

Namun jika memang ingin tidur terpisah, setiap pasangan harus cerdas dalam mengatur kapan saatnya pisah ranjang dan kapan waktu untuk tidur bersama. Jika hal tersebut dilakukan secara sembarangan, justru akan menjadi pemicu hubungan buruk dalam suatu hubungan dan mungkin dapat menimbulkan perasaan bahwa masing-masing dapat hidup mandiri tanpa pasangannya.

Oleh karena itu, diskusikan lebih dahulu dengan pasangan apa yang membuat Anda ingin pisah ranjang. Jangan sampai pasangan Anda tidak tahu apa alasan Anda sehingga akan lebih memperburuk komunikasi antara Anda dan pasangan. Jika memang itu untuk kebaikan, pastinya pasangan pun akan mengerti.

 

Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/.