Penyakit skoliosis itu apa?
Tulang
belakang setiap orang memiliki lengkungan alami. Lengkungan ini ada di antara
bahu kita dan membuat punggung kita melekuk agak ke dalam. Namun, beberapa
orang memiliki tulang belakang yang melengkung ke sisi kiri kanan. Tidak
seperti postur tubuh yang buruk, lengkungan ini tidak dapat diperbaiki hanya
dengan membiasakan untuk berdiri tegak.
Kondisi
melengkungnya tulang belakang pada sisi kiri / kanan disebut penyakit
skoliosis. Pada pemeriksaan X-ray, tulang belakang pada orang dengan skoliosis
terlihat seperti huruf “S” atau “C” dan bukan garis lurus. Beberapa tulang pada
tulang belakang yang mengalami skoliosis juga mengalami sedikit rotasi,
sehingga pinggang atau bahu orang tersebut terlihat tidak seimbang.
Siapa yang mengalami penyakit skoliosis?
Penyakit
skoliosis menyerang sekitar 2% dari populasi. Namun skoliosis dapat terjadi
pada 1 keluarga. Bila seseorang di satu keluarga mengalami skoliosis,
kemungkinan terkena skoliosis lebih besar, sekitar 20%. Bila seseorang di
antara keluargamu mengalami masalah lengkungan tulang belakang, maka kamu harus
melakukan pemeriksaaan skoliosis.
1. Anak anak
Sebagian
besar penyakit skoliosis merupakan “idiopatik” yang berarti penyebabnya tidak
diketahui. Biasanya terjadi pada anak-anak usia pertengahan atau akhir, sebelum
masa pubertas, lebih sering pada anak perempuan dibandingkan laki-laki.
Meskipun skoliosis sering terjadi pada anak-anak dengan cerebral palsy
(gangguan otak), muscular dystrophy (gangguan otot), spina bifida, dan kondisi
lainnya, sebagian besar skoliosis terjadi pada anak-anak yang sehat
2. Dewasa
Penyakit
skoliosis biasaya terjadi pada anak-anak, namun dapat juga terjadi pada orang
dewasa. Skoliosis pada orang dewasa dapat merupakan perburukan kondisi yang
awalnya terjadi saat anak-anak, yang tidak terdiagnosa atau tidak ditangani
saat orang tersebut sedang bertumbuh. Apa yang awalnya merupakan lekukan ringan
atau sedang, berkembang menjadi lebih parah dengan tidak adanya penanganan.
Skoliosis
pada orang dewasa, dapat juga terjadi dengan adanya proses degeneratif pada
tulang belakang. Kelainan tulang punggung lain seperti kifosis atau punggung
yang membulat, berhubungan dengan osteoporosis yang terjadi pada usia lanjut.
Semakin menuanya seseorang, kejadian terjadinya skoliosis dan kifosis akan
meningkat.
Bila
terjadi perkembangan yang lebih lanjut, skoliosis yang parah pada orang dewasa dapat
menyebabkan nyeri yang hebat, deformitas dan kesulitan bernafas.
Pentingnya deteksi dini (saran untuk orang tua)
Penyakit
skoliosis tidak dapat dicegah, namun deteksi dan penanganan saat masa
pertumbuhan, merupakan cara yang paling baik untuk mencegah masalah yang sudah
ada sehingga tidak memburuk.
Skoliosis
idiopatik dapat berlangsung tanpa terdeteksi pada anak-anak karena biasanya
tidak terasa nyeri pada masa-masa awal terbentuknya penyakit. Jadi orang tua
harus memperhatikan tanda-tanda awal dari skoliosis ketika anak-anak mereka
berumur sekitar 8 tahun.
·
Bahu
yang tidak sejajar
·
Adanya
benjolan pada tulang belakang
·
Pinggang
yang tidak sejajar
·
Pinggul
yang terangkat
·
Miring
ke satu sisi
Jika
terdapat salah satu tanda tersebut, diperlukan pemeriksan oleh dokter
keluarga/umum, dokter orthopedic. Beberapa sekolah juga melaksanakan screening
skoliosis. Meskipun hanya dokter yang dapat secara akurat mendiagnosis
skoliosis, screening di sekolah dapat membantu memperingatkan orang tua akan
tanda-tanda skoliosis pada anaknya.
Tatalaksana
Dalam
merencanakan tatalaksana untuk masing-masing anak, dokter orthopaedi akan
mempertimbangkan beberapa faktor, seperti riwayat skoliosis pada keluarga, usia
timbulnya lengkungan, lokasi lengkungan, dan keparahan lengkungan.
Sebagian
besar lengkungan tulang belakang pada anak-anak akan tetap kecil dan hanya
perlu dilakukan pemantauan oleh dokter orthopaedi untuk melihat tanda-tanda
perkembangan. Jika terdapat perkembangan dari lengkungan tersebut, dapat
digunakan korset/brace orthopaedi untuk mencegah perburukan lebih lanjut.
Anak-anak yang sedang mendapat terapi dengan menggunakan korset/brace
orthopaedi, dapat tetap berpartisipasi dalam kegiatan fisik dan kegiatan sosial
secara normal.
Stimulasi
otot dengan elektrik, program latihan, ciropraktik, dan manipulasi sampai saat
ini belum terbukti efektif untuk menangani skoliosis.
Bila
lekukan skoliosis sudah dalam keadaan buruk ketika pertama kali ditemui, atau
terapi dengan menggunakan korset/brace tidak dapat mengontrol lengkungan, maka
diperlukan tindakan operatif. Pada kasus ini, operasi merupakan pilihan yang
sangat efektif dan aman.
Kesimpulan
Sudah
tahu kan penyakit skoliosis itu apa? Penyakit skoliosis merupakan masalah yang
umum terjadi yang biasanya hanya memerlukan pemantauan dengan pemeriksaan yang
berkala semasa pertumbuhan. Deteksi dini merupakan hal yang penting, untuk
memastikan lengkungan tersebut tidak berkembang. Hanya pada sebagian kecil
kasus diperlukan tindakan medis, kemajuan pada teknik orthopaedi membuat
skoliosis menjadi kasus yang sangat mungkin ditangani. Dokter Orthopaedi,
spesialis pada penyakit otot dan tulang, merupakan kelompok dokter yang sangat
paham dan berkualifikasi untuk mendiagnosa, memantau, dan melakukan terapi pada
kondisi skoliosis ini.
Narasumber:
Dr. Ahmad Ramdan, dr.,
Sp.OT(K)., MKM
Spesialis Orthopaedi &
Traumatologi - Tulang Belakang
RS Melinda 2
Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .
