Pentingnya Menciptakan Komunikasi Intim Dengan Keluarga

Menciptakan komunikasi intim adalah kunci utama dalam menciptakan keluarga yang harmonis. Beberapa dari pasangan perkawinan mengungkapkan kesedihannya yang disebabkan oleh hilangnya keintiman relasi dalam keluarga. Adapun hal tersebut terjadi karena pasangan jarang berkomunikasi dan hanya bicara seperlunya. Bertindak seperti pergi tanpa pamit, datang tanpa tegur sapa, makan masing-masing, seolah seperti orang asing yang hidup dalam satu atap.

Menciptakan komunikasi intim keluarga penting, salah satunya untuk menghindari penyebab kehancuran, yang disebabkan karena kurangnya kedekatan dan keharmonisan antara pasangan dan anak-anak akan memihak pada salah satu figur orang tuanya (ayah atau ibunya) yang mereka rasa masih memperhatikan keberadaan mereka sebagai anak. Dan dapat dipastikan bila suasana keluarga seperti itu, seluruh anggota keluarga hidup dalam keadaan yang tertekan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan komunikasi intim keluarga, di antaranya:

1.    Aspek personal

Karena tujuan komunikasi adalah saling memahami, mencintai, dan memberi dukungan, maka setiap anggota keluarga seharusnya menghargai apa yang dipikirkan dan dirasakan keluarga lainnya. Bisa menjadi pendengar yang baik, jika ada negosiasi, lakukan dengan jujur dan saling terbuka.

2.    Menghargai

Saling menghargai berarti tidak saling melecehkan atau menertawakan dan merasa dilecehkan atau dihina. Setiap pasangan bebas menyampaikan ide atau aktivitas kesehariannya, jika menemukan perbedaan pendapat, atasi dengan cara terbuka, diselesaikan dengan kepala dingin tanpa harus ada emosi. Tunjukan sifat suportif, dengan intonasi yang mendukung dan penuh perhatian.

3.    Ajaklah Anak Dalam Komunikasi

Komunikasi intim tidak hanya dilakukan dengan masing-masing pasangan, tetapi juga bisa melibatkan anak. Anda atau pasangan Anda dapat mengajukan pertanyaan mengenai kegiatan anak di sekolah. Hal tersebut bisa dilakukan sehari-hari dan setidaknya dengan cara seperti itu dapat memudahkan komunikasi intim dalam keluarga, sehingga menjadi lebih baik dan harmonis.

4.    Kondisikan Perbincangan Mengenai Rencana Masa Depan

Komunikasi intim dengan pasangan bisa lebih mendalam dengan pertanyaan seperti, "Kira-kira bagaimana ya, kehidupan keluarga kita 5 tahun mendatang?". Dari diskusi tersebut akan bisa berkembang berdasarkan pertanyaan, "Peristiwa apa yang membuatmu paling bahagia?" atau "Menurutmu apa yang bisa membuatmu tetap merasa bahagia?" Bila ternyata pasangan Anda menolak menjawab, maka Anda bisa mendorongnya secara halus untuk mengungkapkan perasaannya melalui kesediaan Anda menceritakan pengalaman Anda secara terbuka, jujur, dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

5.    Rasa Marah Karena Kebiasaan Negatif

Anda mungkin sering dibuat jengkel oleh kebiasaan negatif pasangan Anda yang terasa sangat sulit diubah. Misalnya, kebiasaan menaruh handuk basah di atas tempat tidur, padahal rak handuk tidak jauh dari pintu kamar. Maka perasaan jengkel yang Anda rasakan dapat Anda ungkapkan dengan menjabarkan apa yang dirasakan saat melihat handuk basah di atas tempat tidur dengan mengungkapkan, "Perasaan saya kesal dan jengkel sekali karena melihat handuk basah di tempat tidur". Bila ungkapan dilakukan dengan intonasi tenang, maka ungkapan itu akan lebih diterima dalam benak pasangan Anda sehingga lama kelamaan dia pun akan mengubah cara meletakkan handuk basah seperti yang Anda inginkan.

Ciptakan komunikasi intim dengan pendekatan yang tenang dan tidak bernada mengancam atau mencerca, apalagi menyalahkan, maka hal ini akan membuka peluang bagi pasangan untuk menyimak pesan yang Anda sampaikan, untuk kemudian diikuti dengan adanya perubahan sikap. Jika setiap anggota keluarga berlaku demikian, maka suasana keluarga akan harmonis, aman, dan nyaman.

 

 

Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .