Mendeteksi Gangguan Pendengaran pada Bayi Sedari Dini Yuk Moms!

Mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi sedari dini sangatlah penting. Menurut para ilmuwan Amerika dan Australia, tuna rungu merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada bayi yang baru lahir. Data terbaru melampirkan bahwa di Amerika, antara 3-6 bayi dari 1.000 kelahiran di deteksi menderita tuna rungu. Sedangkan di Australia, menunjukkan angka 1,3-3,1 per 1.000 kelahiran.

Perkembangan pendengaran pada seorang anak dimulai pada 6 bulan pertama kelahiran, sampai usianya menginjak 2 tahun. Dampak dari ketulian ini akan sangat besar bagi kehidupan si anak di masa selanjutnya, karena akan menyulitkan anak berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk itu sangatlah penting bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan gangguan pendengaran bayi, karena ketulian atau tuna rungu merupakan salah satu kelainan yang banyak terjadi. Biasanya, ketulian berat yang terjadi pada kedua telinga dapat langsung disadari oleh orang tua, namun bagaimana dengan ketulian dengan tingkat rendah atau sedang?

Bayi baru lahir yang memiliki kemungkinan tinggi mengalami gangguan pendengaran di antaranya :

  • Riwayat keluarga atau keturunan,

  • Kelainan bentuk telinga, wajah dan kepala,

  • Infeksi pada saat kehamilan,

  • Berat lahir kurang dari 1.500 gram,

  • Bayi dengan kondisi harus mengalami perawatan di rumah sakit.

Dr. Yosita Rachman, seorang dokter spesialis THT dari Jakarta, mengatakan bahwa, "Hati-hati jika bayi tidur nyenyak, tidak terganggu suara bantingan pintu maupun suara keras lainnya, sebab kemungkinan terjadi gangguan pendengaran (bayi)." Menurutnya lagi, sejak berada dalam kandungan, bayi sudah dapat mendengar. Terlihat pada pemeriksaan USG, saat bayi bergerak-gerak merespon gelombang suara yang dihasilkan USG. Pada bayi yang berumur lebih besar, biasanya akan merespon dengan menolehkan kepala atau mencari sumber bunyi. Jika anak Anda ternyata tidak memiliki reaksi tersebut, segera bawa anak Anda ke dokter.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah menggalakkan pemeriksaan dini pada bayi sejak usia dua hari yang ditempuh melalui penapisan/skrining mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi, menggunakan alat emisi otoakustik (OAE = Oto Acoustic Emission) dan BERA (Brainstem Evoked Respons Auditory). Pemeriksaan OAE bertujuan untuk menentukan fungsi rumah siput sebagai alat sensor terhadap bunyi yang masuk telinga, sedangkan pemeriksaan BERA bertujuan untuk mengukur aktifitas potensial listrik pada jalur saraf pendengaran sampai batang otak terhadap bunyi.


Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .