Keluarga Berencana (KB) dapat membantu Anda merencanakan berapa jumlah anak yang diinginkan. Salah satu metodenya yaitu diafragma dan spermisida. Kedua metode KB ini saling berhubungan dan cocok bagi Anda yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan metode kontrasepsi hormonal (perokok, wanita di atas 35 tahun).
Diafragma berbentuk kap bulat, cembung dan terbuat dari lateks (karet), dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutupi serviks. Memiliki berbagai ukuran dan dapat dicuci serta dipakai berkali-kali, namun jika lebih dari satu tahun sebaiknya jangan dipakai lagi. Terlebih jika diafragma bolong, kering atau keras, gantilah dengan yang baru.
Diafragma efektif jika digunakan dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI, tidak menggangu hubungan seksual, kesehatan klien, dan tidak mempunyai pengaruh sistemik. Penggunaan diafragma dapat digabungkan dengan spermisida segera sebelum berhubungan seks atau sejak enam jam sebelumnya. Jell spermisida yang dioleskan mampu membunuh sperma, sekaligus melindungi Anda dari kuman penyebab Gonorhea dan Chlamydia.
Spermisida memiliki berbagai bentuk, mulai dari busa, tablet, krim atau jeli. Cara penggunaannya dengan mengoleskannya ke dalam vagina sebelum berhubungan seks. Jika spermisida langsung dipakai dalam vagina dalam bentuk tablet, masukkan 10-15 menit menjelang berhubungan seks. Dan spermisida dalam bentuk busa, jeli atau krim sebaiknya dioleskan tepat sebelum berhubungan seks.
Jika Anda memasukkan spermisida dalam vagina, namun sudah lebih dari satu jam berlalu dan hubungan seks belum berlangsung juga, maka tambahkan tabletnya. Begitu pun jika Anda melakukan hubungan seks berkali-kali secara berurutan, tambahkanlah spermisida setiap kalinya.
Spermisida tidak terlalu ampuh jika hanya digunakan sendirian tanpa bantuan alat lain. Oleh karena itu, spermisida lebih berkhasiat jika dipakai sebagai tambahan perlindungan pada diafragma atau kondom. Adapun efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan spermisida yaitu keluhan gatal-gatal atau lecet dalam vagina.
Berbeda dengan diafragma yang memiliki efek samping diantaranya infeksi saluran uretra (kandung kemih), alergi, rasa nyeri pada tekanan terhadap kandung kemih/rektum, timbul cairan vagina dan berbau, serta luka pada dinding vagina akibat tekanan pegas diafragma. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan pemilihan yang lebih tepat mengenai metode Keluarga Berencana apa yang cocok untuk Anda, konsultasikan dengan petugas kesehatan.
Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .
