Cara Salah Menyapih Bayi

Menyapih bayi merupakan proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus. Menyapih yang dilakukan dengan cara yang benar, membuat ikatan Anda dengan si kecil akan tetap terjaga. Buah hati Anda dapat belajar bahwa seorang ibu tetap mencintainya meskipun ia tak mendapatkan ASI lagi. Bayi akan merasa disapih bukanlah sesuatu yang menyakitkan namun mendidik mereka untuk belajar mandiri.

Terkadang, proses penyapihan dilakukan dalam keadaan terpaksa, misalnya ibu mendadak jatuh sakit atau harus pergi jauh sehingga tidak memungkinkan untuk menyusui bayi. Kesiapan ibu atau bayi juga menjadi faktor penyebab penyapihan tidak berlangsung lancar.

Ketidaktahuan ibu tentang penyapihan bisa membuat bayi tertekan. Terkadang ibu memilih melakukan cara-cara pintas agar bayi berhenti menyusui dengan jangka waktu yang singkat tanpa mengetahui efek yang mungkin ditimbulkan. Berikut adalah cara-cara yang salah dalam menyapih bayi.

 

Mengoleskan obat merah pada puting

Mengoleskan obat merah pada puting bisa menyebabkan bayi mengalami keracunan bahkan bisa membuatnya sakit. Jika ibu melakukan penyapihan secara tiba-tiba, si kecil akan merasa ditolak ibunya. Dampak selanjutnya, diduga bayi akan merasa ibu tidak mencintainya lagi. Cara ini juga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Dapat muncul gaya kepribadian avoidance yang berarti menghindar dalam suatu hubungan interpersonal. Si kecil akan mengalami kesulitan untuk menjalin suatu hubungan intensif dengan orang lain.

 

Mengoleskan jamu, brotowali, atau kopi supaya pahit

Cara ini yang biasanya banyak digunakan para ibu untuk memulai penyapihan. Awalnya mungkin bayi tak akan menikmati rasa pahit itu, tetapi lama-kelamaan bayi bisa menikmatinya bahkan ketergantungan. Bayi akan belajar, meskipun pahit tetapi masih tetap bercampur dengan puting ibunya. Efek yang ditimbulkan dari cara ini, bayi bisa mengembangkan suatu kepribadian yang ambivalen. Si kecil akan mengembangkan kecemasan dalam hubungan interpersonal nantinya. Bayi juga akan kebingungan, apakah ibu sebenarnya mencintainya atau tidak.

 

Memberi perban/plester pada putting

Cara ini akan terasa lebih menyakitkan bagi bayi. Dengan diplester/diperban, bayi tidak bisa menyentuh puting ibunya. Bayi belajar bahwa puting ibunya adalah sesuatu yang tidak bisa dijangkau.

 

Menitipkan anak ke rumah kakek-neneknya

Cara ini juga banyak dilakukan para orang tua agar bayi berhenti menyusu. Kehilangan ASI saja sudah cukup menyakitkan, ditambah pula kehilangan figur ibu. Kondisi seperti ini bisa mengguncang jiwanya. Bayi akan menghadapi 2 sumber stress, yaitu ditinggalkan dan harus beradaptasi. Anda jangan kaget jika setelahnya si kecil butuh penyesuaian kembali terhadap orang tua terutama ibu bahkan ia akan kehilangan kepercayaan.

 

Selalu mengalihkan perhatian setiap bayi menginginkan ASI

Meski masih bayi, si kecil tetap merasakan penolakan ibu yang selalu mengalihkan perhatiannya saat ia menginginkan ASI. Kondisi ini juga bisa membuat bayi bersikap ambivalen yang meragukan kasih sayang ibu terhadap dirinya.

 

Bersikap cuek setiap bayi menginginkan ASI

Jika setiap si kecil menginginkan ASI, ibu selalu bersikap acuh, maka dampaknya bayi bisa merasa tak disayang dan kehadirannya ditolak sehingga tumbuh rasa rendah diri dalam dirinya.

Terkadang kesalahan dalam menyapih bayi juga justru datang dari ibu sendiri. Ibu tidak bersedia menyapih karena ketergantungan emosional yang kuat dengan bayinya. Hal ini berdampak negatif terhadap perkembangan psikis si kecil yang dapat mengembangkan kepribadian dependen atau tidak mandiri. Sebaiknya, ibu banyak belajar cara menyapih yang benar dan penuh cinta agar bayi tidak merasa depresi saat ia berhenti menyusu.

 

 

Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .