Baby Walker, Bahaya Atau Tidak?

Sebagai orang tua, tentunya sangat bahagia melihat anak Anda tumbuh dengan sehat. Apalagi ketika anak mulai memasuki fase belajar berjalan. Lelah menjaga anak yang mulai aktif? Tentu saja! Karena butuh penjagaan ekstra saat tahap ini mulai memasuki kehidupan anak. Pastinya ada diantara para orang tua yang merasa fase ini agak menggangu kegiatan, dan akhirnya memutuskan untuk memakai baby walker, kepraktisannya seringkali menjadi pilihan untuk membantu anak belajar berjalan, ibu juga bisa sambil melakukan pekerjaan rumah dan anak dapat sekaligus belajar berjalan. Namun, benarkah baby walker efektif untuk bayi yang belajar berjalan?

Menurut penelitian di Amerika Serikat, terdapat sekitar 14.000 kasus anak masuk rumah sakit yang diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. Penyebabnya bermacam, seperti : anak yang suka bereksplorasi ke setiap sudut ruangan rumah termasuk tempat-tempat yang berbahaya, komposisi roda yang tidak stabil dan cenderung tidak mendukung keamanan, komposisi rangka yang kurang kokoh.

Selain itu, tentunya anak belum bisa mengenal situasi lingkungan, belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai. Apalagi jika rumah Anda memiliki desain ruangan yang tidak aman, bukan tidak mungkin saat anak duduk dalam baby walker dapat menyebabkan kecelakaan. Ketika duduk dalam baby walker, anak dapat meraih benda-benda yang membahayakan dirinya seperti benda panas atau benda tajam, seperti : secangkir kopi panas di atas meja makan, meraih gunting, pisau atau garpu. Kecelakaan umum yang sering terjadi adalah kaki Anak bisa terjepit atau terkilir saat melewati permukaan bercelah atau jari tangan terjepit celah pintu.

Beberapa ahli berpendapat, pengunaan baby walker dari sisi medis pun sebenarnya tidak cukup bermanfaat malah cenderung merugikan karena aktivitas motorik yang terjadi saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja yaitu otot-otot betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih. Kemampuan berjalan merupakan gerakan yang dihasilkan dari  koordinasi otot-otot besar, jika proses pelatihan tidak benar, anak akan menjadi lambat dalam berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat simulasi fisiknya serta dibarengi asupan gizi seimbang, mungkin saja di usia 9 - 10 bulan, bayi sudah bisa berjalan.

Pengunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan pada kaki bayi. Ini disebabkan karena bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker, yang bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Berdasarkan kenyataan ini, banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek alias mengangkang. Terbiasa berjalan dengan baby walker pun dapat menimbulkan kelemahan otot-otot tungkai.

Dibanding menggunakan baby walker, lebih disarankan anak diajak berenang. Dengan begitu, semua otot tubuh bergerak mulai dari otot kaki, lengan dan leher. Kalau pun tidak, latih anak Anda dengan cara mentitah karena 100% dapat melatih otot serabut motoriknya. Sebaiknya latihan berjalan pun dilakukan dengan telanjang kaki karena membantu melatih jari-jari kaki lebih terkoordinasi. Hindari lantai licin yang dapat membuat bayi Anda terpeleset, yang akhirnya membuat anak trauma dan takut berjalan.

Jadi sebenarnya lebih menguntungkan jika Anda memakai cara alami dalam mengajarkan anak berjalan daripada memakai alat penunjang. Meskipun anak Anda harus sering terjatuh, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri.


Untuk informasi lebih akurat, dapat berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda atau dapat langsung menghubungi website kami di https://www.melindahospital.com/ .