KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Senin 03 Agustus 2015
by MelindaCare, via Artikel P3K

Pada kecelakaan, selalu ingat untuk menilai situasi, tetap tenang, waspada terhadap ancaman apapun, serta bangun dan jaga kepercayaan korban, dan jangan lupa untuk segera memangil bantuan professional.

MENILAI KORBAN DENGAN KESAKITAN ATAU CEDERA

Terdapat tiga aspek yang harus dinilai:

  1. Cari tahu apa yang terjadi pada korban. Tanyakan runtunan kejadian pada korban yang sadar

  2. Perlakukan korban sesuai kondisi, selalu prioritaskan untuk menangani kondisi mana yang mengancam nyawa korban.

  3. Rencanakan penanganan selanjutnya dengan seksama. Penolong harus mengerti dan tepat dalam menentukan tipe pertolonga yang dibutuhkan korban. Sebisa mungkin penolong segera memanggil bantuan medis profesional. Bantu korban, bila perlu mintalah tolong pada orang lain yang melintas jalan (bystander). Bila korban tidak dalam kondisi berbahaya, antar korban bila memungkinkan.

Metode Penilaian

Ketika melakukan penilaian, penilai harus melakukan survey primer, yakni identifikasi dan penanganan kondisi yang mengancam nyawa korban dengan melakukan penilaian utama A-B-C (Airway-Breathing-Circulation). Bila masalah yang mengancam nyawa telah teratasi atau tidak ada sama sekali, penolong dapat melanjutkan pertolongan ke survey sekunder.

Survey Primer

Merupakan penilaian inisial terhadap korban yang harus dilakukan secara cepat untuk menangani kondisi yang dengan segera dapat mengancam nyawa. Bila korban masih sadar, hanya menderita luka kecil dan dapat berkomunikasi dengan baik, proses survey primer akan cepat dilakukan. Sebaliknya, bila korban mengalami kondisi mengancam nyawa, jangan segera pindah ke langkah survey sekunder, selesaikan masalah pada survey primer. Bila korban terdapat lebih dari satu, penolong harus bisa memilah korban mana yang lebih prioritas (Lihat Triase). Selalu ingat, bahwa korban yang tidak responsif adalah korban dengan risiko terbesar.

  • Level Respon :Penolong dapat mengindentifikasi dari awal status kesadaran korban. Sangatlah penting untuk tetap memeriksa level kesadaran korban dalam dengan tetap memberikan stimulus seperti memberikan pertanyaan pada korban.

  • Airway: periksa jalur nafas, apakah terbuka dan lancar. Korban yang tidak dapat bicara menunjukkan jalur nafas tidak terbuka dan lancar. Sumbatan jalan nafas akan mencegah usaha nafas, menyebabkan hipoksia dan daat berakhir dengan kematian.

  • Breathing: Periksa apakan pernafasan korban normal? Bila korban tidak bernafas normal, segera hubungi 118 atau ambulans RS terdekat, dan mulai kompresi dada disertai nafas bantuan. Bila korba bernafas, segera periksa dan tangani kesulitan atau abnormalitas nafas seperti adakah riwayat asma, kemudian lanjutkan ke langkah berikutnya yakni Circulation (sirkulasi)

  • Circulation: periksa tanda-tanda insufisiensi aliran darah. Apakah korban mengalami perdarahan serius yang dapat menyebabkan syok. Segera hubungi 118 atau ambulans RS terdekat, dan lakukan balut tekan untuk perdarahan (Lihat bahasan Perdarahan). Bila korban tidak ada perdarahan, lanjutka ke Survey Sekunder.

  • Survey Sekunder

    Merupakan pemeriksaan terperinci pada korban untuk menemukan cedera atau kondisi lain yang tidak terlihat langsung. Lakukan pemeriksaan yang seksama dari kepala hingga kaki korban setelah langkah A-B-C selesai

  • Disabilitas : penolong memeriksa tingkat kesadaran korban

  • Evaluasi korban: terkadang penolong harus memotong pakaian korban untuk memeriksa atau menangani cedera.

  • Dengan melakukan survey ini, penolong diharapkan mencapai tujuan untuk menemukan hal berikut ini:

  • Riwayat: Apa yang terjadi sebenarnya dan riwayat medis yang relevan.

  • Riwayat kejadian: tugas penolong adalah mendapatkan kronologis kejadian kecelakaan atau perlukaan yang menyebabkan cedera pada korban dengan verifikasi dari berbagai pihak terkait (saksi mata). Akan lebih baik bila penolong juga dapat menemukan petunjuk kejadian sehingga mekanisme kejadian dapat diketahui secara tepat.

  • Riwayat medis sebelumnya: walaupun nampak tidak berhubungan langsung dengan kondisi terkini korban, riwayat medis dapat menjadi petunjuk penyebab kejadian. Bebebrapa petunjuk adanya riwayat medis yang perlu penting diantaranya: gelas atao tato medis pada korban, atau obat-obatan milik korban. (Lihat gambar)

  • Melakukan pengambilan riwayat:

    • Tanyakan apa yang terjadi: pastikan apakah insiden disebabkan karena kesakitan atau karena kondisi sebelumnya

    • Tanyakan mengenai pengobatan apa yang sedang dijalani korban.

    • Riwayat alergi

    • Periksa asupan makanan dan minuman terakhir korban

    • Selalu tanggap dan waspada adanya petunjuk riwayat seperti gelang atau tato medis yang berhubungan dengan penyakit yang diidap korban seperti epilepsi, diabetes, atau anafilaksis.

    • Gunakan singkatan AMPLE (Allergy-Medication-Previous medical history-Last mela- Event history) agar lebih mudah diingat mengenai hal apa saja yang harus ditanyakan pada pengambilan riwayat.

  • Gejala dari cedera dan abnormalitas yang dirasakan korban yang dapat diceritakan oleh korban. Minta korban untuk sebisa mungkin menggambarkan keluhannya secara detail dan spesifik. Sebagai contoh: bila korban mengeluhkan rasa nyeri, minta korban mendeskripsikan tipe nyeri (intensitas hialng timbul atau terus menerus, sifat nyeri tajam atau tumpul, dan sebagainya). Dengarkan dengan seksama, lakukan pencatatan bila perlu.

  • Tanda dari cedera dan abnormalitas yang dialami korban seperti pembengkakan, perdarahan, perubahan warna, deformitas, atau bau yang dapat dideteksi oleh penolonng dengan pengamatan dan perabaan pada mkorban. Penolong diaharap dapat menggunakan seluruh indera – lihat, dengar, rasakan, dan hirup.

Komentar Artikel MENILAI KORBAN
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI