KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Kamis 23 Juli 2015
by MelindaCare, via Artikel P3K

Kaki pengkor adalah kelainan bawaan yang sering ditemukan pada anak. Dalam bahasa medis sering dikenal sebagai clubfoot atau dalam bahasa latin disebut sebagai CTEV (Congenital Talipes Equino Varus). Kelainan ini dapat mengenai satu kaki atau dua kaki, dimana tidak ada perbedaan antara kaki kiri dan kaki kanan. Kasus yang terjadi pada kedua kaki sebesar 30-50%.. Insidensi kasus ini adalah 1:1000 kelahiran hidup, dimana Anak laki-laki dua kali lebih sering terkena dibandingkan dengan anak perempuan.

Kelainan ini ditandai dengan kaki mengarah ke bawah dan memuntir ke dalam. Penyebab pasti belum dapat diketahui. Kelainan ini mulai terbentuk pada awal masa embrionik. Secara fisiologis ketika masih berada di kandungan, posisi kaki memang menghadap ke dalam. Namun, setelah lahir perlahan posisi kaki mulai ke depan dan terlihat normal. Sehingga perlu diwaspadai jika posisi kaki tersebut menetap setelah lahir. Kelainan ini akan semakin berkembang dan semakin sulit pula untuk dikoreksi seiring bertambahnya usia.

Orang beranggapan untuk mengobati kaki pengkor diperlukan biaya yang besar untuk operasi. Padahal operasi bukan satu satunya cara untuk mengobati kaki pengkor. Sekarang telah dikenal metode tanpa operasi untuk mengobati kaki pengkor, yaitu metode Ponseti. Ponseti sendiri berasal dari nama penemu metode tanpa operasi tersebut. Beliau adalah Ignacio Ponseti, Ahli orthopaedi berkebangsaan spanyol, yang telah berhasil mengembangkan metode tanpa operasi untuk menangani kaki pengkor. Metode ini dapat dimulai segera setelah bayi lahir. Akan tetapi, pada kebanyakan kasus, koreksi masih dapat dicapai sampai akhir masa anak-anak. Pada kasus yang sudah lama dan terlambat ditangani juga dapat menggunakan metode ini dan mungkin akan memerlukan tindakan pembedahan yang lebih minimal dibandingkan dengan tidak menggunakan metode ini pada saat penanganan pertama.

Metode ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :

  • Pemasangan gips melingkar secara berkala yang dilakukan setiap minggu selama kurang lebih 6 minggu. Gips ini untuk mempertahankan hasil koreksi pada kaki pengkor. Tahapan koreksi ini ada urutannya, tidak serta merta dalam sekali koreksi kemudian menjadi normal kembali. Oleh karena itu, penderita dengan kelainan kaki pengkor perlu ditangani oleh ahlinya.

  • Setelah pemasangan gips dinilai sudah cukup berhasil, maka akan dilanjutkan dengan pemakaian sepatu Dennis-Brown. Sepatu ini adalah sepatu khusus untuk penderita kaki pengkor yang dihubungkan dengan bar selebar bahu. Sepatu ini berguna untuk mempertahankan kaki dalam posisi keluar ( valgus ).

  • Pemakaian sepatu ini dipakai selama kurang lebih 3 bulan pertama setelah gips terakhir dilepas. Setelah itu anak harus memakai sepatu ini selama 12 jam pada malam hari dan 2-4 jam pada siang hari. Sehingga total pemakaian 14-16 jam dalam sehari sampai anak berusia 3-4 tahun.

  • Kapan penggunaan sepatu dihentikan ? Kebanyakan anak akan terbiasa dengan memakai sepatu Dennis-Brown. Jika setelah 3-4 tahun terjadi masalah maka penggunaan sepatu dapat dihentikan dengan tetap mewaspadai tanda-tanda pengkor kembali atau kambuh ( relaps )

Sepatu Dennis-Brown

Relaps dapat dihindari jika komunikasi dokter dengan pasien berjalan baik. Penyebab paling sering adalah ketidaktaatan penggunaan sepatu Dennis-Brown. Pada penelitian yang dilakukan oleh Jose Morcuende, relaps terjadi 80 % pada keluarga yang tidak taat dan pada keluarga yang taat dapat terjadi relaps sebesar 2 %. Artinya relaps masih mungkin terjadi pada penderita yang taat berobat.

Apa yang harus dilakukan jika kaki pengkor timbul kembali ? Begitu ditemukan tanda awal adanya kaki pengkor, maka segera konsultasi untuk dilakukan pemasangan gips ulang. Prinsip penanganan gips pada pasien relaps sama dengan pemasangan gips metode Ponsetti.

Tidak perlu malu atau menyembunyikan kelainan yang terjadi pada buah hati kita. Kelainan ini dapat terjadi pada semua orang tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Segera konsultasikan ke dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi khusus anak-anak ( Paediatric Orthopaedic ) di rumah sakit bedah di Melinda Hospital 2.

penulis : Yoyos Dias Ismiarto, dr. SpOT (K),Mkes,CCD

Komentar Artikel KAKI PENGKOR ( CTEV )
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI