KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Rabu 18 April 2018
by MelindaCare, via Artikel Keluarga

Mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi sedari dini sangat penting loh, mengingat menurut para ilmuwan Amerika dan Australia menunjukkan bahwa tuna rungu merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada bayi yang baru lahir. Data terbaru melampirkan bahwa di Amerika, antara 3-6 bayi dari 1.000 kelahiran di deteksi menderita tuna rungu. Sedangkan di Australia, menunjukkan angka 1,3-3,1 per 1.000 kelahiran.

Perkembangan pendengaran pada seorang anak dimulai pada 6 bulan pertama kelahiran, sampai usianya menginjak 2 tahun. Dampak ketulian sendiri akan sangat besar bagi kehidupan si anak di masa selanjutnya, karena menyulitkan anak berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk itu sangatlah penting bagi orang tua melakukan pemeriksaan gangguan pendengaran bayi, karena ketulian atau tuna rungu adalah salah satu kelainan yang banyak terjadi. Biasanya, ketulian berat yang terjadi pada kedua telinga dapat langsung disadari oleh orang tua, tapi bagaimana dengan ketulian dengan tingkat rendah atau sedang?

Bayi baru lahir yang memiliki kemungkinan tinggi mengalami gangguan pendengaran di antaranya :

  • Riwayat keluarga atau keturunan,

  • Kelainan bentuk telinga, wajah dan kepala,

  • Infeksi pada saat kehamilan,

  • Berat lahir kurang dari 1.500 gram,

  • Bayi yang kondisinya mengharuskan perawatan di rumah sakit.

      Dr. Yosita Rachman, seorang dokter spesialis THT dari Jakarta, mengatakan bahwa, "Hati-hati jika bayi tidur nyenyak, tidak terganggu suara bantingan pintu maupun suara keras lainnya, sebab kemungkinan terjadi gangguan pendengaran (bayi)." Menurutnya lagi, sejak berada dalam kandungan, bayi sudah dapat mendengar. Terlihat pada pemeriksaan USG, saat bayi bergerak-gerak merespon gelombang suara yang dihasilkan USG. Pada bayi yang berumur lebih besar, biasanya akan merespon dengan menolehkan kepala atau mencari sumber bunyi. Jika anak Anda ternyata tidak memiliki reaksi tersebut, segera bawa anak Anda ke dokter.

      Pemerintah Indonesia sendiri tengah menggalakkan pemeriksaan dini pada bayi sejak usia dua hari yang ditempuh melalui penapisan/skrining mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi, menggunakan alat emisi otoakustik (OAE = Oto Acoustic Emission) dan BERA (Brainstem Evoked Respons Auditory). Pemeriksaan OAE bertujuan untuk menentukan fungsi rumah siput sebagai alat sensor terhadap bunyi yang masuk telinga, sedangkan pemeriksaan BERA bertujuan untuk mengukur aktifitas potensial listrik pada jalur saraf pendengaran sampai batang otak terhadap bunyi.

Komentar Artikel Mendeteksi Gangguan Pendengaran pada Bayi Sedari Dini Yuk Moms!
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI